Hari Kontrasepsi Sedunia Momentum Peningkatan Kesejahteraan Keluarga

Oleh : Henderina A. Marcus, CPKB Kota Jayapura

Banyak peringatan hari penting yang kita rayakan, baik secara nasional maupun secara global. Seperti Hari Anak Nasional, Hari Pendidikan, Hari Guru, Hari Kesadaran Autisme, dan masih banyak lagi. Ada yang perlu diingat setiap hari penting itu dirayakan. Tapi pernahkah anda mendengar Hari Kontrasepsi Sedunia (World Contraception Day)? Seberapa penting kita untuk memperingatinya?

Hari Kontrasepsi Sedunia mungkin tidak sepopuler peringatan hari penting lainnya. Namun ada yang perlu kita ingat setiap tanggal 26 September, betapa pentingnya pengetahuan tentang kontrasepsi. World Contraception Day (WCD) baru diluncurkan tahun 2007 dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengetahui kontrasepsi dan memberikan informasi kepada masyarakat agar dapat memahami dan membuat keputusan yang tepat terkait kesehatan reproduksinya.Visinya, tidak ada kehamilan yang tidak direncanakan. Selain itu, bertujuan agar generasi muda mendapatkan informasi tentang kesehatan reproduksi dan kesehatan seksual.

Berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) angka kelahiran total/Total Fertility Rate (TFR) secara nasional cenderung menurun dari 2,6 (SDKI 2012) menjadi sekitar 2,4 anak per perempuan usia reproduksi (SDKI 2017). Walaupun TFR masih belum sepenuhnya mencapai sasaran pembangunan bidang kependudukan dan KB yaitu 2,33 (RPJMN 2015- 2019), namun hal tersebut menunjukkan pencapaian yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya yang cenderung stagnan sejak tahun 2007. Demikian pula dengan angka penggunaan kontrasepsi yang telah mengalami peningkatan dari 61,9% (SDKI 2012) menjadi 63,6% (SDKI 2017) akan tetapi masih didominasi oleh penggunaan metode kontrasepsi jangka pendek.

Pengertian Kontrasepsi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kontrasepsi adalah cara untuk mencegah kehamilan (dengan menggunakan alat atau obat pencegah kehamilan, seperti suntik, spiral, kondom, dan pil). Kontrasepsi bukan saja bermanfaat untuk membatasi jumlah kelahiran, tapi juga untuk mengatur dan menata kependudukan serta merencanakan keluarga melalui pendekatan siklus kehidupan manusia. Penggunaan kontrasepsi melindungi kesehatan ibu dan anak, mulai dari kehamilan yang sehat, kelahiran yang sehat, kecukupan ASI dan gizi serta kecukupan pengasuhan dengan menggunakan kontrasepsi modern.

BKKBN sebagai instansi pemerintah yang memegang kendali pengelolaan Program Keluarga Berencana, salah satu tugas utamanya adalah memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menggunakan kontrasepsi. Menjaga jarak kehamilan dengan menggunakan kontrasepsi memberikan kesempatan kepada ibu untuk memilih yang terbaik bagi kesehatan dirinya dan memberdayakan diri dari segi pendidikan, social, dan keluarga.

Kontrasepsi juga dimaknai sebagai upaya untuk memenuhi hak anak untuk hidup layak lewat pemenuhan  gizi 1000 Hari Pertama Kehidupan (ASI Eksklusif 6 bulan dan dilanjutkan MPASI bergizi). Hal ini penting untuk mencegah terjadinya stunting bagi anak. Dengan jumlah anak yang ideal dan jarak anak yang tidak terlalu dekat, masyarakat bisa mengelola kehidupan keluarganya dengan baik.

Metode Kontrasepsi Alami

Pasangan Usia Subur (PUS) dapat menunda kehamilan dengan cara alami (tanpa alat kontrasepsi). KB alami bisa dijadikan pilihan bagi mereka yang tidak mau tubuhnya dimasuki benda asing, tidak cocok memakai alat kontrasepsi, atau takut dengan efek sampingnya. KB alami bisa digunakan sebagai alternatif lain dalam menunda kehamilan, namun perlu diingat bahwa resiko kegagalannya lebih besar dibandingkan metode kontrasepsi modern. Diperlukan komitmen yang besar diantara pasangan suami isteri yang memilih kontrasepsi ini. Beberapa cara yang dapat digunakan sebagai metode kontrasepsi alami, anatara lain :

  • Metode Amenore Laktasi (MAL), dengan cara memberikan ASI eksklusif secara langsung kepada bayi sebelum berumur 6 bulan dan Ibu belum mendapat haid kembali setelah melahirkan. Semua syarat ini harus terpenuhi untuk dapat menjadi metode kontrasepsi.
  • Metode Kalender, dengan cara tidak berhubungan intim saat masa subur (10-17 hari setelah hari haid pertama)
  • Senggama Terputus , dengan cara melakukan ejakulasi di luar vagina sehingga mencegah sperma bertemu dengan sel telur.

Metode Kontrasepsi Modern

Metode Kontrasepsi Modern adalah cara menunda kehamilan dengan menggunakan alat kontrasepsi, seperti Pil, Suntik, Implan, IUD, Kondom, dan metode operasi. Kontrasepsi modern dapat digunakan dalam jangka pendek maupun jangka panjang, baik oleh pria dan wanita. Selain itu ada yang bersifat hormonal (memiliki efek samping) dan non hormonal. Beragam metode kontrasepsi modern ini dapat dipilih oleh pasangan suami isteri sesuai kesepakatan, kebutuhan, dan kondisi tubuhnya. Penggunaan kontrasepsi modern memang memiliki kemungkinan kegagalan, dalam hal ini tetap terjadi kehamilan walaupun menggunakan alat kontrasepsi. Namun, kemungkinan kegagalan ini lebih kecil dari pada metode kontrasepsi alami. Kontrasepsi modern juga memiliki efek samping yang berbeda-beda antara satu orang dan lainnya. Oleh sebab itu calon akseptor perlu berkomunikasi dengan petugas KB maupun tenaga kesehatan dalam memilih metode kontrasepsi.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.