Pengembangan Media dan Materi KIE BKB Demi Tercapainya Pengelolaan BKB di Papua

Jayapura – Bidang Keluarga Sejahtera dan Pembangunan Keluarga (KS/PK) Perwakilan BKKBN Provinsi Papua menggelar Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Media dan Materi Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) Bina Keluarga Balita (BKB), pada Kamis (15/07) pagi. Kegiatan yang dihadiri oleh perwakilan masing-masing bidang di lingkungan BKKBN Papua, OPD KB Kota/Kabupaten, dan para kader tersebut diagendakan untuk menampung masukan dari para peserta terhadap materi KIE BKB berupa buku saku yang sedang dipersiapkan oleh BKKBN Papua.

Pembuatan buku saku sebagai bentuk pengembangan media dan materi KIE BKB diharapkan dapat menunjang agenda kerja kader di lapangan, sehingga pengelolaan BKB dapat tercapai dan berjalan aktif. Penyusunan buku saku tersebut diinisiasi oleh bidang KS/PK dan disusun oleh dua ASN Perwakilan BKKBN Provinsi Papua yakni Tirza Itaar, S.Sos., MA (Widyaiswara) dan Henderina Apriyani Marcus (PKB), sesuai dengan pedoman dan petunjuk teknis BKB dari BKKBN RI, yang dikemas dalam kearifan lokal melalui penggunaan Bahasa Melayu Papua (Logat Papua) dan ilustrasi-ilustrasi yang disesuaikan dengan muatan lokal.

“Ketika nanti dipaparkan oleh teman kami, mohon masukan karena ini berbasis kearifan lokal dengan bahasa-bahasa sesuai dengan kearifan lokal. Diharapkan supaya kader lebih paham dan ketika dia menyampaikan kepada masyarakat akan lebih dimengerti dan program kita itu tercapai,” jelas Drs. Djonny Suwuh, Koordinator Bidang KS/PK pada pembukaan kegiatan diskusi.

Muatan dalam buku saku kader BKB ini diharapkan dapat menjadi pedoman pengelolaan BKB di lapangan dan dimanfaatkan oleh OPD, kader, PKB dan PLKB. Dalam buku saku tersebut berisi tentang pengelolaan BKB mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan yang ditulis dengan pemilihan kata yang lebih sederhana agar mudah dipahami para kader, namun penyusun tetap terbuka akan masukan bagi buku tersebut.

“Kalau ada masukan silahkan bapak/ibu, jika di dalam buku ini ada tulisan atau kata-kata yang mungkin tidak dipahami bisa menjadi masukan buat kami untuk mencari kalimat yang lebih sederhana dipahami, karena bapak/ibu saya yakin lebih banyak pengalaman di lapangan. Kemudian dari gambar-gambar dan warnanya juga, karena ini masih mentah belum dicetak, jadi masih membutuhkan masukan dari bapak/ibu,” ujar Tirza Itaar, S.Sos., MA., Widyaiswara BKKBN Papua yang menjadi salah satu penyusun buku saku.

Dalam presentasi setiap halaman buku saku, peserta yang hadir aktif memberikan masukan tentang susunan materi, pemilihan kata, ilustrasi-ilustrasi, penggunaan jenis huruf hingga pemilihan warna yang digunakan. Semua masukan yang disampaikan telah dikumpulkan oleh penyusun untuk kemudian dapat memperbarui buku saku menjadi lebih sesuai dengan muatan lokal yang diharapkan.

Pemilihan buku saku dipilih sebagai bentuk pengembangan media dan materi KIE BKB agar pesan yang dimuat dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di wilayah tertentu, sehingga pesan yang dimasukkan lebih spesifik menyasar karakteristik suatu lingkup masyarakat dalam hal ini masyarakat Papua. Diharapkan dengan adanya buku saku ini, nantinya masing-masing kota/kabupaten juga dapat mengadopsi dalam bentuk bahasa daerah yang lebih mudah dipahami. (TK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *