PENANGANAN STUNTING DI PAPUA

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak  usia di bawah dua tahun yang secara pasti  disebabkan oleh masalah gizi kronis. Masalah tersebut dapat berupa asupan gizi yang kurang dalam jangka waktu yang lama, pada umumnya karena makanan yang dikonsumsi tidak sesuai dengan kebutuhan gizi pada anak di bawah dua tahun. Keadaan ini mengakibatkan terhambatnya perkembangan otak dan fisik, kerentanan terhadap penyakit, sulitnya anak berprestasi, dan saat dewasa sangat mudah menderita obesitas sehingga berisiko terkena penyakit jantung, diabetes, dan penyakit tidak menular lainnya. Seorang anak dikatakan mengalami stunting jika  secara fisik pada umumnya anak berbadan lebih pendek untuk anak seusianya, proporsi tubuh cenderung normal tetapi anak tampak lebih muda/kecil untuk usianya, memiliki berat badan rendah untuk anak seusianya, dan pertumbuhan tulangnya mengalami penundaan.

(Ilustrasi BKKBN)

Penderita stunting di Provinsi Papua masih tinggi, yakni dikisaran angka 30 persen. Salah satu penyebab utamanya adalah sangat kurangnya informasi tentang bagaimana pemberian asupan gizi dan pola hidup yang berkualitas bagi ibu hamil dan bayi. “Angka stunting di Papua masih tinggi dari target nasional di bawah 10 persen. Tahun ini, kami telah menyiapkan program penanganan stunting di 22 kabupaten. Seperti pemberian makanan tambahan secara rutin bagi ibu dan anak,” ungkap Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi Papua, dr. Silwanus Sumule, di awal Februari 2020 ini. Lanjutnya, “Diperlukan sinergi antara kementerian dan Pemda untuk penanganan stunting. Dengan cara inilah dapat tercipta sebuah solusi untuk penanganan stunting. Misalnya, sosialisasi terkait pola pengasuhan anak, penyediaan anggaran yang cukup dan sarana transportasi untuk menjangkau seluruh wilayah baik di perkotaan maupun di daerah pedalaman,” kata Sekretaris Dinas Provinsi Papua ini.

Salah satu upaya dari BKKBN dalam pencegahan stunting yakni melalui program Bina Keluarga Balita (BKB) untuk mewujudkan pemenuhan kebutuhan gizi bagi para ibu-ibu hamil dan bayi-bayi serta penerapan pola asuh yang baik terutama dalam seribu (1.000) hari pertama kehidupan karena segala sesuatu yang terjadi pada masa 1.000 hari pertama tahapan kehidupan menjadi faktor penentu kualitas kehidupan anak agar terhindar dari stunting. Selanjutnya, Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Papua, Bapak Sarles Brabar, SE, M.Si, menerangkan bahwa pihaknya juga mengemban program untuk pengentasan stunting karena minimnya asupan gizi untuk 22 kabupaten di Papua seperti Lanny Jaya, Tolikara, Paniai, Dogiyai, Asmat, dan Mamberamo Raya.(Prahum/SNT)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *