UPPKS di Masa Pandemi Covid-19

Menghadapi pandemi covid-19, Kepala BKKBN Dr. dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K) mendorong keluarga Indonesia termasuk yang ada di Provinsi Papua agar cermat melihat peluang ekonomi yang dapat dirintis dan dikembangkan. “Kita tidak benci asing, tapi kita harus cinta kemandirian,” jelas Hasto dalam webinar Era Normal Baru dalam Merintis Usaha Ekonomi Keluarga Pascapandemi Covid-19 yang diselenggarakan BKKBN pada bulan Juni yang lalu. BKKBN memiliki program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UPPKS) yang dapat memberikan pendampingan bagi keluarga untuk mulai mencari prospek bisnis yang baik. Sasaran BKKBN adalah anak-anak, remaja, hingga usia lanjut. Kepala BKKBN mendorong masyarakat untuk dapat melihat peluang untuk menciptakan produk yang kompetitif dan membentuk kelompok guna mengumpulkan modal usaha. Jadi, jangan sampai permodalan dilakukan investor yang kemudian akan mengikat.

Dalam upaya peningkatan pendapatan keluarga, Kepala BKKBN menekankan pentingnya keluarga  membangun produk yang dapat menciptakan peluang dan memiliki jaringan yang kuat, sehingga produk yang mereka hasilkan dapat dipasarkan dengan mudah. Jadi kita sebagai keluarga di tengah-tengah masyarakat harus mempunyai produk sendiri. Kemudian kita harus mencintai produk lokal sendiri agar supaya kita dapat mandiri. Lebih lanjut, ia menekankan bahwa agar dapat menciptakan produk tersebut, maka penting juga bagi keluarga untuk memiliki sumber modal atau sumber pembiayaan. Untuk bisa memiliki sumber modal yang baik, ia menghimbau agar keluarga dapat memperolehnya dari sumber-sumber modal yang tidak mengikat peminjam dengan persyaratan yang menyulitkan, misalnya koperasi.

Keluarga adalah satuan terkecil masyarakat yang menjadi fondasi bagi terciptanya mental masyarakat pekerja keras, cerdas, dan inovatif dimana ketiga hal ini merupakan hal yang inti. Selain itu, founder Rumah Perubahan Rhenald Kasali mengemukakan bahwa angkatan kerja di Indonesia didominasi usaha mikro atau usaha kecil. Perusahaan besar mampu menampung 3,6 juta tenaga kerja, menengah 3,77 juta, dan perusahaan kecil 5,83 juta, sedangkan usaha mikro mampu menampung 107,37 juta tenaga kerja. Oleh karena itu, bisa kita lihat bahwa kekuatan ekonomi rakyat kita tidak bisa dianggap sebelah mata. Jadi Rhenald menghimbau kita untuk tidak melupakan ekonomi kerakyatan. Pandemi covid-19 ini sudah seharusnya dilihat sebagai suatu peluang besar untuk mengembangkan ekonomi kerakyatan, dengan melihat dab belajar pada krisis 1998 yang lalu saat Indonesia justru berhasil bangkit lewat usaha mikro yang dibangun masyarakat. Ia juga melihat UPPKS dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat agar dapat mengembangkan usaha mikro demi terciptanya kemandirian keluarga.(Prahum/SNT)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *