Cegah Stunting Guna wujudkan Generasi Emas

Sumber daya manusia yang berkualitas tentu akan menjadi modal yang sangat kuat dalam pembangunan suatu Bangsa. Namun untuk mewujudkan sumber daya manusia berkualitas sebagai upaya membentuk generasi emas bukan pekerjaan mudah. Salah satu masalah yang dapat menghambat upaya mewujudkan manusia yang berkualitas  adalah Stunting.

Stunting adalah kondisi kekurangan gizi pada balita yang berlangsung lama, sejak konsepsi, kehamilan hingga usia 2 tahun atau yang dikenal dengan1000 Hari Pertama Kehidupan yang dapat menyebabkan terhambatnya perkembangan otak dan tumbuh kembang anak.

Masalah stunting ini kemudian semakin diperburuk dengan adanya kenyataan bahwa masih banyak terjadi perkawinan anak yang menghasilkan kehamilan di usia yang sangat muda, yakni usia ketika pertumbuhan biologis dan psikologisnya belum matang. Hal ini mengakibatkan rendahnya kualitas kehamilan dan rendahnya pola asuh orang tua yang sesungguhnya secara psikologis masih anak-anak.

Stunting yang mempengaruhi status kesehatan dan kecerdasan ini jika tidak di cegah sejak dini akan berdampak pada upaya mewujudkan generasi emas. Yang paling mengkhawatirkan adalah stunting tidak hanya dialami oleh kalangan dengan berpendapatan rendah, namun juga dapat dialami oleh mereka yang berasal dari kalangan dengan pendapatan yang tinggi disebabkan oleh kekurangan gizi dalamm waktu yang lama pada periode 1000 hari pertama kehidupan.

Lantas apa penyebab stunting? di ambil dari tulisan berjudul “100 KABUPATEN/KOTA PRIORITAS UNTUK INTERVENSI ANAK KERDIL (STUNTING)”  yang diterbitkan oleh TNP2K disebutkan, Stunting disebabkan oleh faktor multi dimensi dan tidak hanya disebabkan oleh faktor gizi buruk yang dialami oleh ibu hamil maupun anak balita. Secara lebih detil, beberapa faktor yang menjadi penyebab stunting dapat digambarkan sebagai berikut:

  1. Praktek pengasuhan yang kurang baik, termasuk kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi sebelum dan pada masa kehamilan, serta setelah ibu melahirkan. Beberapa fakta dan informasi yang ada menunjukkan bahwa 60% dari anak usia 0-6 bulan tidak mendapatkan Air Susu Ibu (ASI) secara ekslusif, dan 2 dari 3 anak usia 0-24 bulan tidak menerima Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI). MP-ASI diberikan/mulai diperkenalkan ketika balita berusia diatas 6 bulan. Selain berfungsi untuk mengenalkan jenis makanan baru pada bayi, MPASI juga dapat mencukupi kebutuhan nutrisi tubuh bayi yang tidak lagi dapat disokong oleh ASI, serta membentuk daya tahan tubuh dan perkembangan sistem imunologis anak terhadap makanan maupun minuman.
  2. Masih terbatasnya layanan kesehatan termasuk layanan ANC-Ante Natal Care (pelayanan kesehatan untuk ibu selama masa kehamilan) Post Natal Care dan pembelajaran dini yang berkualitas. Informasi yang dikumpulkan dari publikasi Kemenkes dan Bank Dunia menyatakan bahwa tingkat kehadiran anak di Posyandu semakin menurun dari 79% di 2007 menjadi 64% di 2013 dan anak belum mendapat akses yang memadai ke layanan imunisasi. Fakta lain adalah 2 dari 3 ibu hamil belum mengkonsumsi sumplemen zat besi yang memadai serta masih terbatasnya akses ke layanan pembelajaran dini yang berkualitas (baru 1 dari 3 anak usia 3-6 tahun belum terdaftar di layanan PAUD/Pendidikan Anak Usia Dini).
  3. Masih kurangnya akses rumah tangga/keluarga ke makanan bergizi. Hal ini dikarenakan hargamakanan bergizi di Indonesia masih tergolong mahal.Menurut beberapa sumber (RISKESDAS 2013, SDKI 2012, SUSENAS), komoditas makanan di Jakarta 94% lebih mahal dibanding dengan di New Delhi, India. Harga buah dan sayuran di Indonesia lebih mahal daripada di Singapura. Terbatasnya akses ke makanan bergizi di Indonesia juga dicatat telah berkontribusi pada 1dari 3 ibu hamil yang mengalami anemia.
  4. Kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi. Data yang diperoleh di lapangan menunjukkan bahwa 1 dari 5 rumah tangga di Indonesia masih buang air besar (BAB) diruang terbuka, serta 1 dari 3 rumah tangga belum memiliki akses ke air minum bersih.

 

Terkait masalah stunting ini, Terdapat beberapa hal yang harus dilakukan untuk mencegah stunting yaitu:

  • Memberikan perhatian pada 1000 hari pertama kehidupan (HPK)
  • Meningkatkan pengetahuan yang benar terhadap pola asuh anak
  • Pemberian ASI Eksklusif
  • Memberikan imunisasi untuk menghindari infeksi pada anak
  • Pencegahan Anemia pada remaja dan ibu hamil

Guna mengatasi masalah stunting, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) terus menggiatkan kegiatan-kegiatan guna meningkatkan pengetahuan terkait penanganan stunting yaitu melalui Kelompok Bina Keluarga Balita (BKB), menggiatkan program Generasi Berencana (Genre) serta program Pendewasaan Usia perkawinan (PUP) yaitu mendorong agar usia perkawinan minmal 21 tahun bagi wanita dan 25 tahun bagi pria. Dengan menggiatkan program-program tersebut pada masyarakat hingga tingkat paling bawah, diharapkan pemahaman akan pentingnya  menjaga kesehatan ibu hamil dan anak balita semakin meningkat sehingga nantinya akan menghasilkan generasi emas  yaitu generasi dengan kecerdasan baik intelektual,Emosinal dan Spiritual  yang dapat dijadikan modal untuk pembangunan Bangsa  (Tirza/WI)

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *